tokobukuistimewa

MENGENALKAN BACAAN BERBAHASA INGGRIS

Posted on: March 10, 2011


MENGENALKAN BACAAN BERBAHASA INGGRIS, SEBUAH PENGALAMAN BERHARGA

Kapan kita mulai diperkenalkan pada bahasa Inggris? Kapan kita mulai belajar bahasa Inggris? Apakah bahasa Inggris digunakan juga di rumah?
Itulah segenap pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya sebagai orangtua. Jawabannya tentu bisa bermacam-macam, tergantung pada latar belakang pola asuh di rumah, sekolah, dan budaya yang berbeda-beda.
Di era 60 70-an, kala sekolah negeri masih menjadi yang terbaik dan sangat populer, pelajaran bahasa Inggris mulai diberikan di kelas satu SMP, dengan menggunakan buku Student Book. Materi dalam pelajaran bahasa Inggris ini ditekankan pada grammar, terutama tenses. Akibatnya, kita selalu menemukan kesulitan pada saat mau berbicara menggunakan bahasa Inggris karena perbendaharaan kata yang sangat minim.
Saya lantas menyadari, salah satu penyebab hambatan itu adalah kebiasaan membaca yang belum membudaya. Padahal, membaca dapat mengembangkan perbendaharaan kata, kemampuan membuat karangan (essay), pola pikir, dan wawasan kita. Terlepas bahwa apa yang dibaca menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Oleh sebab itu diharapkan setiap orangtua memahami bahwa latar belakang pola asuh di rumahlah yang membedakan anak-anak kita di sekolah. Simaklah pengalaman saya bertemu dengan beberapa orangtua dan anak berikut.

BEBERAPA PENEMUAN MENARIK

* Pada suatu ketika saya bertemu ibu yang memiliki seorang putra berumur 3 tahun. Ia berbicara dengan bahasa Indonesia yang bagus sekali sebagus kala sedang berbahasa asing. Saya bertanya, apakah beliau dan keluarganya pernah tinggal di luar negeri? Ia menjawab, hanya 9 bulan pernah tinggal di Belanda mengikuti perjalanan dinas suami. Selidik punya selidik ternyata di masa kecilnya beliau punya pengalaman unik. Apabila ayahnya sedang membaca buku atau majalah dan ia mendekat, langsung saja cara sang ayah membaca berubah; dari dalam hati menjadi bersuara. Tidak peduli apakah artikel tersebut dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris.
* Saya juga pernah membacakan buku anak-anak berbahasa Inggris sangat sederhana (7 kata setiap halaman) pada seorang anak bernama Ghanya yang waktu itu berumur 4,5 tahun. Ia mengikuti ucapan saya dengan sangat jelas. Sepertinya Ghanya sudah dapat membaca. Lalu saya mohon Ghanya untuk membaca sendiri dan dia dapat melakukannya dengan baik. Saya tanya, apakah orangtuanya mengajarkan membaca dalam bahasa Inggris? Jawabnya, “Tidak, tetapi mami selalu membacakan aku buku-buku dalam bahasa Inggris.”
Ghanya bersekolah di Al-Azhar Kelapa Gading dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Pada saat itu saya mendapat masukan, bahwa apabila anak terbiasa mendengar bahasa Inggris, pada saat dia sudah bisa membaca dalam bahasa Indonesia, otomatis dia sudah dapat membaca ataupun menerka kalimat dalam bahasa Inggris. Tentunya bahasa Inggris yang umum dan sangat sederhana, karena dia sempat menanyakan dua kata yang tidak dapat dibacanya, yaitu Mr. dan Mrs. Tentu saja karena dua kata tersebut adalah singkatan tetapi dia pernah mendengar dan mengerti artinya.
* Seorang teman mempunyai kebiasaan mendongengi putrinya sejak di usia dini dan selalu menjawab pertanyaan anak lewat buku-buku dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris walaupun saat itu putrinya belum bisa berbicara. Teman saya itu, layaknya dalang, bicara sendiri, bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Dalam situasi seperti ini, saya mau menekankan, orangtua bukanlah ensiklopedia berjalan. Orangtua cukup membangun suasana nyaman dan kecintaan pada buku sejak anak berusia dini. Hal ini akan membentuk kemandirian anak kelak untuk mencari jawaban lewat buku.
Teman saya ini memang menyekolahkan putrinya di sekolah bilingual sejak duduk di taman bermain hingga sekolah dasar. Suatu hari saya bercakap-cakap dengan putrinya. Tutur katanya dalam bahasa Indonesia bagus sekali sehingga saya merasa malu dan kagok. Akhirnya saya merasa tidak nyaman berbicara dalam bahasa Indonesia dengannya dan segera saya putuskan untuk mengubahnya berbincang-bincang dalam bahasa Inggris. Rasa ingin tahu saya besar sekali layaknya seorang anak kecil. Saya bertanya kepada mami-papinya apakah mereka memang pandai berbahasa Inggris sehingga putrinya dapat berbicara dalam dua bahasa dengan sangat baik? Mereka menjawab, “Tidak.” Mereka hanya membiasakan mendongengi putrinya sejak usia dini. Jika dongeng tersebut berbahasa Inggris, mereka tidak menerjemahkannya. Bahkan bahasa Inggris mereka pun ikut berkembang karena kebiasaan tersebut.
* Pada umur 2 tahun Tisa pindah ke Wisconsin, USA bersama orangtuanya dan menetap selama 2 tahun di sana. Pada saat berumur 4 tahun, Tisa kembali ke Jakarta dan bersekolah di St. Fransiscus Asisi dengan pengantar bahasa Indonesia. Pada awalnya Tisa menemui kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Namun, lama-kelamaan ia dapat menyesuaikan diri dan dapat berbahasa Indonesia dengan normal. Orangtuanya khawatir kalau bahasa Inggris yang didapat dari negeri Paman Sam itu hilang, maka dalam waktu senggangnya ataupun di mobil pada saat bepergian selalu dipasanglah kaset lagu-lagu Walt Disney.
Kemampuannya berbahasa Inggris secara lisan maupun tulisan mulai kelihatan menonjol saat Tisa duduk di bangku SLTP bahkan saat duduk di bangku SMU. Gurunya menanyakan buku apa yang dipakai sehingga Tisa dapat berbahasa Inggris layaknya VJ MTV.

ORANGTUA GURU PERTAMA

Cerita di atas adalah beberapa contoh saja bahwa orangtua adalah guru pertama yang sangat penting dan sangat berpengaruh di rumah. Hal ini juga disampaikan Kak Seto dalam sebuah seminar di Sekolah Pelita Harapan, Cikarang, yang menekankan metode “parent as learner” (PAL) dan potensi anak usia dini yang luar biasa layaknya spons.
Namun, banyak sekali orangtua khawatir, “Mengapa anak-anak harus diberi bahasa Inggris jika bahasa Indonesia saja belum dikuasai?”
Berdasarkan temuan-temuan tadi, saya lantas bertanya balik, apakah kita sebagai orangtua konsekuen dan konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan benar? Bagaimana dengan bahasa gaul yang digunakan di sekitar kita, di televisi? Berapa jam anak-anak kita menonton tayangan dan film-film di televisi dengan menggunakan bahasa Inggris? Peralatan di rumah kita pun rata-rata menggunakan bahasa Inggris. Tidak ada “mati-hidup” tetapi “on off “.
Saya mengutip perkataan Glenn Doman, “Pada saat bayi kita lahir maka semua bahasa yang didengarnya adalah bahasa asing. Bahasa yang paling sering dan dominan digunakan kemudian menjadi bahasa ibu.”
Pertanyaannya, apabila kita berbicara dengan anak selama 10 sampai 12 jam dalam bahasa Indonesia sehari dan kita membacakan dongeng atau menstimulasinya selama 5 sampai 15 menit dalam bahasa Inggris, apakah mengganggu tidak? Sebagian besar orangtua menjawab, “Tidak.”
Teori “bahasa asing” Glenn Doman dan temuan-temuan yang saya dapatkan membuahkan kesimpulan, bahasa kedua yang disampaikan kepada anak usia dini atau masih belajar bicara sebaiknya tidak diterjemahkan. Upaya penerjemahan hanya akan mengakibatkan anak jadi sulit berbicara (speechless). Sebagai contoh, shoes-sepatu, umbrella-payung, book-buku, dan lain-lain.
Pertama kali proses stimulasi berjalan, indra yang digunakan adalah pendengaran. Oleh sebab itu, biarlah anak mendengar dulu tanpa menghiraukan mengerti atau tidak artinya. Kita setuju bukan, bahwa bayi belum mengenal struktur bahasa. Jadi, bahasa Inggris sebagai bahasa kedua tak perlu dikenalkan secara formal, cukup lewat lagu-lagu, buku-buku cerita, juga poems & rhymes (puisi dan sajak). Proses mendengarkan bahkan dapat mengembangkan konsentrasi anak yang masih pendek.
Seperti kata para ahli, pengenalan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua harus dalam suasana menyenangkan, konsisten, dan anak tidak boleh dites. Karenanya, orangtua pun harus menjadikan proses pembelajaran di rumah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dan tentu tidaklah berlebihan jika kita memberikan waktu berkualitas selama 5 sampai 15 menit kepada anak sejak usia dini untuk membacakan cerita, poems & rhymes, dan bernyanyi dalam bahasa Inggris. Jadikanlah hal itu sebagai bentuk ikatan emosional dengan anak.
Pada akhirnya kita bukanlah orangtua yang sempurna tetapi orangtua yang terbaik bagi anak kita sekarang dalam mempersiapkan masa depannya nanti. Ingat, “The opportunity is right now, time is so precious.”

Konsultan ahli:Hermidina Widayanti
pemerhati bacaan dan pecinta anak

sumber : http://wselahap.blogspot.com/2008/02/membangun-kebiasaan-membaca-pada-anak.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2011
M T W T F S S
« Feb   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Daftar Isi

Follow Us @bukuistimewa

TokoBuku Istimewa

Subscription



GRATIS artikel/info/promo terbaru langsung dikirim ke Email Anda

@bukuistimewa

%d bloggers like this: