tokobukuistimewa

HAL-HAL YANG MEMPERMUDAH TERSERAPNYA PELAJARAN OLEH ANAK

Posted on: March 18, 2011


HAL-HAL YANG MEMPERMUDAH TERSERAPNYA PELAJARAN OLEH ANAK

A’udzubillahiminasy-syaithaan nirrajiim…

Baru saja anak-anak memulai taawudz bareng ayahnya, tiba-tiba “Breng-breng-breng-breng”, suara lagu pembukaan Naruto sudah terdengar.
Brulll …

anak-anakku berlarian menuju depan TV. Mengaji bersama, bubaaar!

Di kesempatan lain…

“Jadi, adik-adik, Rasulullah itu hebat sekali!”

Tiba-tiba salah satu anak menyeletuk, “Hebat mana sama Doraemon?”

Kakak pembina anak-anak itu langsung bengong sesaat ”

Em, lebih hebat Rasulullah dong”

“Ya hebatan Doraemon dong!”
Bagaimanapun alasan si kakak, si adik tetap tidak terima.

Di masa ini, betapa sulit memasukkan materi spiritual pada anak. Saingan dari pengajar Quran bukanlah waktu bermain anak, ataupun majalah terbaru, tetapi TV. Anak telah terbiasa dimanjakan secara visual lewat TV. Anak  jaman dahulu dapat dengan mudah dipuaskan dengan teks atau dongeng berupa audio.  Tetapi anak jaman sekarang, di mana cerita riwayat Muhammad harus bersaing dengan Doraemon, ayat-ayat Quran bersaing dengan nyanyian, maka materi-materi
keagamaan, maupun kequranan, seringkali kalah. Bukan karena kalah saing isinya, akan tetapi justru bungkusnya.

Coba anda bayangkan membaca buku yang isinya teks belaka, dengan yang isinya bergambar. Mana yang lebih mudah dicerna? Apalagi bila bahasa bertuturnya bagus, dan gambarnya eye catching. Malah jadi betah bacanya. Apalagi kalau dibandingkan dengan menonton film dengan isi yang sama. Mana yang lebih enak dinikmati? Tentu saja yang film.

Wajar ketika Doraemon, Naruto, Pororo, semua lebih hidup dan lebih nyata di mata anak dibandingkan Nabi Nuh, Nabi Adam, ataupun Rasulullah Muhammad SAW. Lagu Pororo, lagu Naruto, jauh lebih nempel di kepala anak dibandingkan Juz ‘amma.

Sebabnya hanya satu. Mereka semua tersaji secara audio visual dihadapan anak. Sedangkan Nabi Nuh, Nabi Adam, Rasulullah, Juz Amma, semua hanya tersaji secara audio, itupun kata-kata verbal, atau teks belaka.
Proses belajar mengajar (apapun) hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun non-verbal. Yang kemudian simbol-simbol tersebut direkam dalam ingatan. Semakin banyak unsur verbalnya semakin abstrak pemahaman yang diterima. Ada baiknya kita melihat diagram Cone of learning dari Edgar Dale dibawah ini.

Nah, mungkin sekarang kita bisa lebih paham, mengapa Pororo, Doraemon, akhirnya lebih real di benak anak, dibandingkan dengan materi-materi Al Quran dan Islam secara umum.

Pororo dan semua film itu sekali lihat, 50% diserap

sedangkan teks Quran? 10% (untuk media  yang hanya menyertakan teks).

Belum lagi karena artinya tak pernah atau jarang sekali dilirik guru ngaji,

bisa jadi hanya 5% saja.

Cerita nabi saja tanpa gambar? 20% saja.
Nah, alat untuk menyampaikan pengajaran ini disebut media.

Media yang hanya menyertakan teks, hanya akan diserap 10%-nya.

Sementara jika disertai suara, akan menjadi 20%. Dan jika disertai gambar akan meningkat menjadi 30%. Akan lebih banyak lagi terserap jika diberikan dalam bentuk film (hanya saja ada catatan penting mengenai kegiatan menonton ini, perlu diwaspadai agar tidak terlalu banyak karena akan mengganggu konsentrasi anak dan sebagainya).

Setelah itu, selanjutnya adalah peran orang tua dan guru, untuk membawa materi tersebut ke ‘alam nyata’. Membawanya ke pameran-pameran atau melihat kegiatan langsungnya (contoh sederhana : orang tua menjadi contoh ‘hidup’ untuk perbuatan-perbuatan baik yang telah diajarkan sebelumnya).

Kemudian biasakanlah untuk mendiskusikannya (dengan obrolan sedikit saja penyerapan informasi menjadi 70%…!).

Secara natural, setelah membaca/melihat sesuatu, biasanya anak refleks bertanya, kenapa begini, kenapa begitu…
Tinggal kesediaan kita sebagai orang tua melanjutkannya menjadi diskusi yang bermanfaat. Selanjutnya materi akan semakin terserap ketika si anak diajak langsung melakukan kegiatan tersebut.

Bila kita menganggap bahwa pengajaran Quran dan Islam adalah sesuatu yang penting untuk diajarkan, maka sudah saatnya kita merombak cara pengajarannya pada anak. Ya, bukan hanya pengajaran IPA, matematika, bahasa inggris yang memerlukan media dan metoda pembelajaran yang baik. Pengajaran Quran dan Islam pun, memerlukan media dan metoda pengajaran yang layak.

 

diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2011
M T W T F S S
« Feb   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Daftar Isi

Follow Us @bukuistimewa

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

TokoBuku Istimewa

Subscription



GRATIS artikel/info/promo terbaru langsung dikirim ke Email Anda

@bukuistimewa

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: