tokobukuistimewa

ALLAH MEWAJIBKAN SESEORANG UNTUK MENCIPTAKAN KEINDAHAN DALAM SEGALA HAL, TAPI MELARANG BERMEWAH-MEWAHAN

Posted on: June 28, 2012


Jabir ibn Abdullah Ansari menceritakan, “Kami berjalan bersama Nabi ke pertempuran Dzat Al Riqa. Ada seorang laki-laki bersama kami, yang telah kami tetapkan baginya persediaan untuk persediaannya, dan pada saat pulang dia menggembalakan ternak kami. Dia memakai dua carik kain yang sobek-sobek. Melihat keadaan yang demikian, Nabi menanyakan apakah dia tidak mempunyai pakaian lain selain yang dia pakai (saat itu)? Jabir menjawab bahwa dia telah memberinya beberapa lembar pakaian yang disimpannya di dalam tasnya. Lalu, Nabi menyuruh Jabir agar meminta laki-laki tersebut untuk memakai pakaian pemberiannya. Laki-laki itupun mengeluarkan pakaian (dari dalam tasnya), lalu memakainya. Ketika dia telah berjalan dan menjauh, Nabi lalu berkata, “ada apa dengan laki-laki itu sehingga dia memakai pakaian yang sobek, sementara dia memiliki pakaian yang baik yang dibawanya?” (HR. Malik dalam Muwaththa)

Abu Al Ahwas meriwayatkan dari ayahnya bahwa beliau mendatangi Nabi dengan berpakaian kotor. Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kamu orang kaya?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu, Nabi bertanya kepadanya tentang jenis kekayaan apa saja yang dia dimiliki. Dia menjawab bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya unta, kambing, kuda, dan budak-budak. Kemudian Nabi bersabda, “Bila Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepadamu, Dia ingin jejak-jejak pengaruhnya tampak pada dirimu (dalam bentuk makanan yang lebih baik, pakaian yang lebih baik, dan lain-lain)” (HR. Abu Dawud)

Pada hadist riwayat Muslim, Nabi bersabda, “Allah itu indah dan Dia mencintai keindahan.” Nabi juga diriwayatkan telah bersabda, “Allah mewajibkan seseorang untuk menciptakan keindahan dalam segala hal.” (HR. Muslim).

Al Qur’an tidak hanya menghalalkan perhiasan, namun lebih jauh meminta setiap manusia agar hidup sesuai dengan kemampuannya: jika Allah menganugerahkan harta yang berlimpah kepada seseorang, orang ini harus hidup sesuai dengan kekayaannya. Dengan demikian, orang lain dapat mengetahui kesejahteraan hidupnya. (Yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya (QS. An Nisa’ [4]:37). Firman ini jelas menyatakan bahwa menyembunyikan karunia Allah sama dengan mengingkari karunia tersebut. Orang hendaknya hidup dengan cara sedemikian rupa sehingga makanan, pakaian dan tempat tinggalnya merupakan perwujudan dari karunia Allah terhadapnya. Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya, serta rezeki yang baik (makanan, pakaian dan lain-lain) (QS. Al A’raf [7]:32).

Asketisme, yang merupakan pengingkaran atas perhiasan dan keindahan dalam kehidupan ini, tidak disetujui dan sangat dicela di dalam Islam. Al Qur’an menentang pandangan semacam itu dan mengijinkan orang untuk menikmati kesenangan, perhiasan, serta keindahan yang telah diciptakan Allah sebagai rezeki bagi umat manusia.

Namun, perhiasan dan keindahan ini hanya boleh dinikmati sewajarnya, tidak berlebih-lebihan. Sebab, umat Muhammad dilarang untuk bermewah-mewahan. Ummu Salamah, istri Muhammad, mengisahkan bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa makan atau minum dari mangkuk emas dan perak, berarti dia telah memasukkan api ke dalam perutnya.” (HR. Malij dalam Muwaththa). Anas ibn Malik mengisahkan bahwa Nabi berkata, “Siapapun (laki-laki) yang memakai pakaian sutra di dunia ini, maka dia tidak akan memakainya di akhirat kelak.” (Muwaththa). Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Nabi telah melarang pemakaian cincin emas (bagi laki-laki) (HR. Bukhari). Abdurrahman ibn Laila meriwayatkan, “Huzaifah pernah berada di kota Madain. Dia meminta sesorang untuk memberi air kepadanya. Seorang petani kaya membawakan air tersebut dalam sebuah bejana perak. Namun, dia membuang air itu dan mengatakan bahwa Nabi telah berkata, ‘Janganlah kamu memakai kain sutra atau kain brokat, dan janganlah minum dari bejana yang terbuat dari emas atau perak, dan janganlah makan dari mangkuk yang terbuat dari logam barang-barang mewah yang dinikmati orang-orang yang tidak takut kepada Allah dengan mengorbankan orang miskin; karena itu, seorang musllim dilarang melakukannya; sebab barang-barang itu adalah untuk mereka (orang-orang yang tidak beriman) di dunia ini dan untuk kita di akhirat.” (HR. Bukhari)

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

sumber gambar : pkslumajang.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2012
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Daftar Isi

Follow Us @bukuistimewa

TokoBuku Istimewa

Subscription



GRATIS artikel/info/promo terbaru langsung dikirim ke Email Anda

@bukuistimewa

%d bloggers like this: