tokobukuistimewa

Jabir ibn Abdullah Ansari menceritakan, “Kami berjalan bersama Nabi ke pertempuran Dzat Al Riqa. Ada seorang laki-laki bersama kami, yang telah kami tetapkan baginya persediaan untuk persediaannya, dan pada saat pulang dia menggembalakan ternak kami. Dia memakai dua carik kain yang sobek-sobek. Melihat keadaan yang demikian, Nabi menanyakan apakah dia tidak mempunyai pakaian lain selain yang dia pakai (saat itu)? Jabir menjawab bahwa dia telah memberinya beberapa lembar pakaian yang disimpannya di dalam tasnya. Lalu, Nabi menyuruh Jabir agar meminta laki-laki tersebut untuk memakai pakaian pemberiannya. Laki-laki itupun mengeluarkan pakaian (dari dalam tasnya), lalu memakainya. Ketika dia telah berjalan dan menjauh, Nabi lalu berkata, “ada apa dengan laki-laki itu sehingga dia memakai pakaian yang sobek, sementara dia memiliki pakaian yang baik yang dibawanya?” (HR. Malik dalam Muwaththa)

Abu Al Ahwas meriwayatkan dari ayahnya bahwa beliau mendatangi Nabi dengan berpakaian kotor. Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kamu orang kaya?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu, Nabi bertanya kepadanya tentang jenis kekayaan apa saja yang dia dimiliki. Dia menjawab bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya unta, kambing, kuda, dan budak-budak. Kemudian Nabi bersabda, “Bila Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepadamu, Dia ingin jejak-jejak pengaruhnya tampak pada dirimu (dalam bentuk makanan yang lebih baik, pakaian yang lebih baik, dan lain-lain)” (HR. Abu Dawud)

Pada hadist riwayat Muslim, Nabi bersabda, “Allah itu indah dan Dia mencintai keindahan.” Nabi juga diriwayatkan telah bersabda, “Allah mewajibkan seseorang untuk menciptakan keindahan dalam segala hal.” (HR. Muslim).

Al Qur’an tidak hanya menghalalkan perhiasan, namun lebih jauh meminta setiap manusia agar hidup sesuai dengan kemampuannya: jika Allah menganugerahkan harta yang berlimpah kepada seseorang, orang ini harus hidup sesuai dengan kekayaannya. Dengan demikian, orang lain dapat mengetahui kesejahteraan hidupnya. (Yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya (QS. An Nisa’ [4]:37). Firman ini jelas menyatakan bahwa menyembunyikan karunia Allah sama dengan mengingkari karunia tersebut. Orang hendaknya hidup dengan cara sedemikian rupa sehingga makanan, pakaian dan tempat tinggalnya merupakan perwujudan dari karunia Allah terhadapnya. Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya, serta rezeki yang baik (makanan, pakaian dan lain-lain) (QS. Al A’raf [7]:32).

Asketisme, yang merupakan pengingkaran atas perhiasan dan keindahan dalam kehidupan ini, tidak disetujui dan sangat dicela di dalam Islam. Al Qur’an menentang pandangan semacam itu dan mengijinkan orang untuk menikmati kesenangan, perhiasan, serta keindahan yang telah diciptakan Allah sebagai rezeki bagi umat manusia.

Namun, perhiasan dan keindahan ini hanya boleh dinikmati sewajarnya, tidak berlebih-lebihan. Sebab, umat Muhammad dilarang untuk bermewah-mewahan. Ummu Salamah, istri Muhammad, mengisahkan bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa makan atau minum dari mangkuk emas dan perak, berarti dia telah memasukkan api ke dalam perutnya.” (HR. Malij dalam Muwaththa). Anas ibn Malik mengisahkan bahwa Nabi berkata, “Siapapun (laki-laki) yang memakai pakaian sutra di dunia ini, maka dia tidak akan memakainya di akhirat kelak.” (Muwaththa). Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Nabi telah melarang pemakaian cincin emas (bagi laki-laki) (HR. Bukhari). Abdurrahman ibn Laila meriwayatkan, “Huzaifah pernah berada di kota Madain. Dia meminta sesorang untuk memberi air kepadanya. Seorang petani kaya membawakan air tersebut dalam sebuah bejana perak. Namun, dia membuang air itu dan mengatakan bahwa Nabi telah berkata, ‘Janganlah kamu memakai kain sutra atau kain brokat, dan janganlah minum dari bejana yang terbuat dari emas atau perak, dan janganlah makan dari mangkuk yang terbuat dari logam barang-barang mewah yang dinikmati orang-orang yang tidak takut kepada Allah dengan mengorbankan orang miskin; karena itu, seorang musllim dilarang melakukannya; sebab barang-barang itu adalah untuk mereka (orang-orang yang tidak beriman) di dunia ini dan untuk kita di akhirat.” (HR. Bukhari)

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

sumber gambar : pkslumajang.org

Advertisements

Keinginan (wants) dan pemuasannya merupakan ciri pokok perjuangan ekonomi manusia. Seluruh harta kekayaan diperoleh untuk memuaskan kebutuhan manusia. Nabi bersabda, “Seandainya Tuhan memberikan kepada manusia satu bukit penuh emas, dia akan meminta satu bukit lagi, dan seandainya dia diberi (bukit emas) yang kedua, niscaya dia akan meminta yang ketiga; manusia tidak akan pernah puas sampai dia mati” (HR. Bukhari).

Keinginan manusia tidak terbatas. Jika satu keinginan terpenuhi, timbul yang lainnya. Dan, jika itu sudah dipenuhi, keinginan lain datang lagi. Dengan demikian, orang berjuang terus sepanjang hidupnya untuk memenuhi mata rantai keinginannya yang tidak pernah putus-putusnya, namun yang tidak pernah dapat dipuaskannya. Inilah karakteristik keinginan, dan inilah yang menyebabkan adanya usaha yang konstan sebagian orang memenuhinya. Al Qur’an mengacu pada karakteristik ini dalam ungkapan berikut, sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (QS. Al Ma’arij [70]:19).

Dengan demikian, secara alami manusia bersifat tamak dan gelisah (tidak sabar) untuk memuaskan keinginan-keinginannya. Dia tidak pernah berhenti pada satu hal. Setiap keinginan baru memberikan daya dorong selanjutnya. Dengan cara ini, dia maju dan terus maju. Sesungguhnya, ini merupakan kunci menuju keberhasilan dan kemajuannya, Dijadikannya terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang (QS. Ali Imran [3]:14).

Kecintaan manusia terhadap hal-hal tersebut alamiah sifatnya dan tidak ada bahaya di dalamnya, asal saja dia masih berada dalam batas-batas kewajaran. Kecintaan yang sedang-sedang saja terhadap hal-hal tersebut akan memberikan dorongan yang dibutuhkan untuk membuat manusia berjuang dalam memperoleh pemuasan keinginannya. Keinginan mutlak diperlukan bagi kehidupan manusia dan tanpanya manusia tidak dapat hidup. Diantara keinginan-keinginan itu adalah kebutuhan-kebutuhan pokok (primer, dharuriyat-ed.): makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Islam memberi pengesahan dan dorongan bagi manusia untuk mendapatkan pangan, sandang dan papan yang baik. Hadist Rasulullah berikut ini mengikhtisarkan tujuan dari segala aktivias ekonomi manusia, “Cukuplah bagi kamu (hal-hal yang berkaitan dengan) dunia ini, jika ia menghilangkan rasa laparmu, menutup tubuhmu, dan bersama dengan kedua hal ini, engkau mendapatkan (naungan tempat berlindung) yang kau huni; jika, dan bersama hal-hal ini, kamu mendapat sesuatu untuk dikendarai, lalu apalagi yang kau inginkan?” Dalam hadist ini, Muhammad merangkum kebutuhan-kebutuhan pokok yang dalam keadaan bagaimanapun, harus disediakan bagi setiap anggota masyarakat.

Islam mengisyaratkan perlunya manusia mengejar kebutuhan-kebutuhan sekunder (hajiyat-ed.), yaitu kebutuhan-kebutuhan yang tidak begitu esensial tetapi diperlukan. Misalnya, seorang buruh membutuhkan makanan yang baik, termasuk daging, susu, mentega dan lain-lain, untuk menjaganya agar tetap sehat, kuat dan dapat bekerja.

Lebih jauh dari itu, Islam membolehkan manusia menikmati keindahan, hiburan dan kenyamanan (kebutuhan tersier, tahsinat atau kamaliyat-ed.). Al Qur’a, misalnya, memerintahkan umat muslim untuk mengenakan pakaian yang indah-indah ketika akan shalat. Wahai Anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid (QS. Al A’raf [7]:31). Indah disini maksudnya bukan hanya pakaian yang memberi tambahan keindahan pada pemakainya, melainkan juga kerapian dan kebersihan, perhatian terhadap rambut dan detail lainnya yang dianggap perlu oleh seseorang yang berbudaya. Perhiasan juga diperbolehkan (QS. Al A’raf [7]:26 dan 32, An Nahl [16]:8, Al Kahfi [18]:7). Hiburan adalah benda-benda yang dapat memberikan kesenangan dan kemudahan kepada seseorang dan umumnya memiliki manfaat yang lebih besar daripada biayanya.

Adapun berlebih-lebihan dalam kesenangan pribadi atau dalam pengeluaran belanja untuk memenuhi sejumlah keinginan yang tidak terlalu penting disebut “kemewahan”. Wahai Anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS. Al A’raf [7]:31).

Larangan mengonsumsi barang-barang mewah kadang kala dilakukan dengan memperingatkan agar “bertakwa kepada Allah” dan kadang kala dengan memerintahkan kepada mereka “untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan”. Mengonsumsi barang-barang mewah adalah racun yang dapat membunuh secara perlahan-lahan namun pasti, dan dapat menghancurkan masyarakat. Pemanfaatan barang-barang mewah antara lain membuat manusia menjadi malas, pemboros dan bersikap berlebih-lebihan. Hal itu akan menumbuhkan dalam dirinya kebiasaan-kebiasaan buruk, yaitu bergantung kepada orang lain, malas, benci akan pekerjaan, tidak bertanggung jawab dan lain-lain. Selanjutnya dia akan selalu siap untuk bersikap berlebihan (bahkan dalam melakukan kejahatan dan dosa) dengan tujuan memperoleh dan mempertahankan kehidupannya yang mewah; dia tidak akan segan-segan mengganggu hak-hak orang lain serta merampas harta mereka dengan cara yang tidak sah. Semua itu akan mengakibatkan tersebar-luasnya suap, korupsi, nepotisme dan lain-lain dalam masyarakat. Pendek kata, dia siap mengobarkan apapun juga untuk mempertahankan kesejahteraan dirinya-termasuk mengorbankan kemaslahatan masyarakat, demi mengejar kesenangan dan keinginan pribadinya.

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

sumber gambar : elok46.multiply.com

Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? (QS. At Tahrim [66]:1). Pada ayat ini, Nabi diperintahkan untuk tidak menjauhkan diri dari apa saja yang memang dihalalkan baginya semata-mata untuk menyenangkan istri-istrinya. Aisyah, istri beliau, mengatakan bahwa Nabi telah bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istrinya, berpantang diri dari melakukan hubungan suami istri. Mengenai sumpah ini, beliau diperintahkan untuk menjelaskannya, dan mengenai pemantangan tersebut, dikatakan kepada beliau, Wahai Nabi! Kenapa engkau melarang dirimu terhadap apa-apa yang telah dihalalkan bagimu?

Menurut riwayat ini, Allah memerintahkan Nabi agar tidak mengharamkan apa-apa yang suci dan dihalalkan. Dengan mengarahkan Nabi agar tetap berada dalam batas-batas kenikmatan dan kesenangan duniawi, Al Qur’an telah memperlihatkan pendekatan yang paling seimbang dalam hal konsumsi, yaitu menjauhi sikap berlebihan; tidak berpantang diri dan tidak pula keterlaluan dalam menikmati kesenangan-kesenangan duniawi, seperti para pertapa atau kaum materialis. Sesungguhnya, Islam memberi kebebasan individual yang sangat besar dalam masalah konsumsi. Mereka bebas membelanjakan hartanya untuk apa saja yang baik, menyenangkan dan memuaskan keinginan-keinginan mereka, asal tidak melampaui “batas-batas kesucian”. Artinya, kebebasan untuk mengonsumsi terbatas pada apa-apa yang baik dan suci saja. Islam melarang untuk mengonsumsi hal-hal yang tidak sejalan dengan kesejahteraan sosial.

Diriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda, :”Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” Dalam hadist ini, Nabi menasehati kaum muslim untuk mengambil jalan hidup yang adil dan seimbang agar dapat memelihara keselarasan antara kebutuhan material dan spiritual. Mereka tidak boleh cenderung pada salah satu sisi saja dan mengabaikan sisi yang lain, sebab materi dan rohani sama-sama penting; ibaratnya, mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama, tanpa salah satunya kehidupan manusia menjadi tidak sempurna. Bentuk pendidikan ini memudahkan seseorang untuk menghindarkan diri dari hidup yang berlebihan dengan mengambil jalan pertengahan.

Nabi menolak seluruh konsepsi agama yang salah yang dibentuk oleh sebagian orang demi memenuhi kepentingannya sendiri. Nabi juga menyatakan bahwa agama tidak mengajarka kebencian terhadap dunia. Lebih jauh lagi, kebencian terhadap dunia tidak membuat seseorang menjadi saleh. Selanjutnya, Nabi berdoa untuk kemakmuran ekonomi para pengikutnya seperti digambarkan dalam hadist ini, “Ya Allah, orang-orang ini tidak mempunyai alas kaki (tidak juga kuda atau unta untuk kendaraannya), berilah mereka (kuda atau unta) untuk dikendarai; Ya Allah, orang-orang ini tidak mempunyai pakaian (telanjang); maka berilah mereka pakaian. Ya Allah, orang-orang ini dalam keadaan lapar, maka berilah mereka makanan.” (HR. Abu Dawud)

Nabi diperintahkan untuk memelihara keselarasan sejati dalam hidup, Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia (QS. Al Kahfi [18]:28). Ayat ini memerintahkan orang Islam benar-benar memelihara keselarasan dan kesimbangan hidupnya; tidak membenci atau mencintai secara berlebihan dunia ini.

Dengan demikian semua individu diberi kebebasan penuh untuk membeli apa-apa yang baik dan suci, asa tidak membahayakan keamanan dan kesejahteraan negara. Prinsip ini diterangkan dalam ayat berikut ini : yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka (QS. Al A’raf [7]:157)

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

sumber gambar : ria.choosen.net

Orang yang berhak menerima zakat telah ditentukan dalam Al Qur’an Surah At Taubah (9):60, “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah.:

Fakir. Istilah fakir berarti seorang yang papa dan miskin; atau orang jujur dan sehat tetapi menganggur sehingga tidak memiliki sumber penghidupan. Makna kedua inilah yang terdapat pada QS. Al Qashash (28):24 ketika menceritakan kisah Musa yang menganggur karena meninggalkan negerinya, menyelamatkan diri dari ancaman penindasan, untuk mencari suaka di negeri lain; jadi mencakup juga para pengungsi yang terpaksa meninggalkan negerinya akibat gejolak politik (lihat juga QS. Al Hasyr [59]:8 dan Al Baqarah [2]:273). Singkatnya, fakir mencakup semua orang yang miskin, renta, tidak mampu, menganggur dan yang tidak dapat mencari nafkah, termasuk juga yang sedang menunaikan tugas-tigas agama Islam-seperti penuntut ilmu, pengajar, dan para dai-yang tidak berkesempatan mencari nafkah.

Orang Miskin. Kata “miskin” mencakup semua orang yang tidak berdaya karena sakit, usia renta, atau menjadi korban perang, yang tidak mampu bekerja, atau mampu tetapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Mereka punya sedikit harta, tetapi masih memerlukan bantuan. Pemberian zakat ini tidak membeda-bedakan ras dan keyakinan. Semua orang yang termasuk fakir dan miskin, terlepas apapun ras dan keyakinannya, menerima bagian zakat. Ini diterapkan oleh Umar ibn Khattab dan Khalid ibn Walid.

Pengumpul Zakat (Amil). Mereka adalah para petugas yang ditunjuk kepala negara (Imam) untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Istilah “amil” mencakup semua pegawai, seperti kolektor, pencatat, penghitung, distributor, penjaga gudang, akuntan dan lain-lain, yang mungkin ditunjuk untuk membantu dalam proses pengumpulan, penyimpanan, distribusi dan administrasi dana zakat. Atas kerjanya ini, amil diberi gaji dari dana zakat, terlepas bagaimana pun kondisi keuangannya. Menurut suatu mazhab, gaji amil tidak boleh melebihi 5% dari dana zakat. Ada pula yang berpendapat bahwa pembayaran total kepada para amil dapat mencapai 75% dari dana zakat. Namun, prinsip dasarnya adalah pengeluarannya tidak dibolehkan-dalam keadaan bagaimanapun-melebihi pemasukan.

Muallafat Al Qulub. Kategori ini mencakup semua orang yang mungkin dapat membantu menegakkan agama Islam. Termasuk juga orang yang baru memeluk agama Islam yang kehilangan harta miliknya dan memerlukan bantuan, bahkan jika mereka bukan “fakir” dan “miskin”. Jika kaum muslim tidak diperbolehkan berdakwah dan melaksanakan ajaran agamanya dan mereka ditindas, dana zakat dapat diberikan kepada mereka jika hal ini dapat meringankan dan menghilangkan penindasan itu.

Pembebasan Tawanan Perang (Budak). Meskipun perbudakan kini telah hilang, manfaat zakat ini dapat dilakukan dengan membantu para tukang yang ahli untuk mengembangkan usaha mereka secara kecil-kecilan daripada bekerja sebagai buruh. Ini tidak hanya akan membantu mereka menjadi majikan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga akan sangat meningkatkan kekayaan negara bersangkutan.

Orang yang berutang. Semua orang yang berutang dan tidak mampu melunasinya, dapat dibantu dengan dana zakat. Syaratnya, utang itu bukanlah untuk mendapatkan sesuatu yang haram. Untuk tujuan ini, yang berutang diklasifikasikan kedalam dua kategori, pertama, mereka yang berutang untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya. Jika mereka tidak kaya serta tidak memiliki kekayaan melebihi nisab yang telah ditetapkan, utang-utangnya dapat dilunasi dari dana zakat. Kedua, mereka yang berutang untuk menolong orang lain. Maka, utang orang seperti ini, baik kaya ataupun miskin, akan dilunasi dari dana zakat.

Fi Sabilillah (di jalan Allah). Ini adalah suatu istilah yang sangat luas. Bentuk prakteknya hanya dapat ditentukan menurut kondisi dan tuntutan zaman. Pos ini dapat mencakup berbagai hal, seperti bantuan persiapan jihad; anggaran untuk fasilitas medis bagi orang yang sakit dan terluka; bantuan beasiswa bagi tidak mampu membiayai pendidikannya; atau bagi orang-orang miskin yang menghafal Al Qur’an. Singkatnya, pos ini mencakup berbagai upaya demi kepentingan umat muslim dan agama islam. Menurut Imam Baidawi, “di jalan Alah” juga bisa mencakup biaya untuk membangun jembatan dan benteng untuk kepentingan orang-orang fakir (miskin)

Musafir. Orang yang sedang melakukan perjalanan lalu tertimpa kesulitan dan tidak dapat menggunakan hartanya-karena jauh dari rumah-disebut musafir. Dia membutuhkan bantuan finansial untuk menyelesaikan perjalanannya. Dia dibantu dana zakat, asalkan perjalanannya itu tidak dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang atau untuk tujuan yang haram. Musafir dapat dibantu dengan uang kontan atau sarana dan fasilitas-fasilitas lainnya dalam bentuk rumah peristirahatan, ruang tunggu, tempat mandi, dan lain-lain, di stasiun- stasiun dan tempat-tempat layak lainnya di seluruh negeri. Bahkan pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan baru dan lama dapat dimasukkan dalam kelompok ini. Sesungguhnya, semua fasilitas yang memudahkan dan menunjang perjalanan dalam negeri yang bersangkutan serta yang meramaikan lalu lintasnya dapat dimasukkan dalam kelompok ini.

Kedelapan jenis pengeluaran ini mempunyai jangkauan yang sangat luas dan mencakup hampir semua bentuk jaminan sosial di dalam suatu masyarakat. Namun, perlu diingat bahwa ke delapan kelompok penerima zakat ini memiliki hak klaim atas zakat hanya jika mereka telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari penghidupan, tapi belum berhasil mencukupi nafkah diri dan keluarganya. Dengan demikian, Islam di satu pihak mendorong orang untuk bekerja keras dan mencari penghidupan dan di lain pihak memerintahkan negara muslim untuk menyediakan pekerjaan pada setiap penduduknya. Dengan demikian, melalui usaha pribadi dan bantuan negara, setiap anggota masyarakat harusnya dapat memperoleh penghidupannya di suatu negara muslim. Namun, jika masih ada yang tidak mampu mencukupi nafkahnya, zakat membantu mereka dalam kondisi yang sulit itu.

 

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

 

sumber gambar : ibnuabbaskendari.wordpress.com

Jika seseorang menemukan harta terpendam tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan biaya (rikaz). Bagian negara sudah semestinya tinggi, yaitu sebesar 20%. Di lain pihak, usaha hasil bumi (pertanian, perkebunan dan lain-lain) membutuhkan tenaga dan modal yang lebih banyak, sehingga tarif zakatnya lebih rendah daripada tarif zakat harta temuan. Jika tanah itu dialiri dengan tenaga dan modal dari pengelola, tarif zakatnya 5%. Tapi jika diairi tanpa modal dan tenaga-sepenuhnya bergantung pada curah hujan, aliran sungai, atau ngarai-tarif zakatnya adalah 10%. Perbedaan itu sebagai pengganti biaya tenaga dan modal yang dipergunakan dalam pengairan tanah tersebut. Selanjutnya, tarif zakat emas, perak serta barang dagangan adalah 2,5%, sebab akumulasi emas dan perak adalah suatu proses yang lebih rumit dibandingkan dengan pengolahan tanah. Pedagang, disamping menghadapi resiko rugi, juga tidak hanya menggunakan lebih banyak tenaga dan modal besar, namun membutuhkan pula intelegensia. Karenanya, pengelola patut mendapatkan penghargaan yang lebih besar. Jika emas dan perak dikenakan tarif yang sama sebagaimana diterapkan pada hasil bumi, ini akan menghambat atau boleh jadi menghancurkan usaha dagang itu. Dengan kata lain, tarif zakat 2,5% ini terutama dimaksudkan untuk mendorong perdagangan dan industri (jadi, semacam jenis pemberian konsesi pajak bagi pelaku usaha perdagangan dan industri).

Akhirnya, sudah umum diketahui bahwa pengelola tanah hanya memilikisedikit kebutuhan, tetapi dapat memenuhi sebagian besar (paling tidak kebutuhan pokoknya) dari tanahnya sendiri. Maka, dia berada pada posisi yang lebih menguntungkan daripada seorang pedagang yang biasanya adalah penduduk kota, yang harus membayar tunai setiap kebutuhannya disamping harus memenuhi tuntutan-tuntutan lainnya untuk hidup di kota.

Prinsip-prinsip utama yang mendasar diferensiasi tarif zakat untuk berbagai jenis pendapatan ini diringkas sebagai berikut :

  1. Zakat dikenakan terhadap semua anggota masyarakat yang kaya untuk dimanfaatkan oleh kaum miskin.
  2. Sama sekali tidak ada quid pro quo, yaitu pengembalian keuntungan kepada si kaya atas pungutan tersebut. Orang kaya yang membayar zakat tersebut tidak berhak memperoleh keuntungan apa-apa dari dana ini. Mereka hanya menyumbang dana ini, yang dicadangkan seluruhnya bagi anggota masyarakat miskin.
  3. Zakat hanya dikenakan kepada anggota masyarakat muslim
  4. Semakin sedikit jumlah tenaga dan modal yang dilibatkan dalam penumpukan suatu pendapatan, maka semakin tinggi tingkat pungutan zakatnya. Sebaliknya, semakin besar jumlah tenaga kerja dan modal, semakin rendah tingkat pungutan zakatnya.
  5. Zakat tidak dikenakan atas barang-barang yang mudah busuk atau rusak dalam masa beberapa hari, seperti sayuran
  6. Barang-barang yang tidak dipergunakan untuk produksi selanjutnya, yaitu barang-barang rumah tangga, hewan yang dipergunakan untuk kendaraan , alat-alat pengangkutan, tempat tinggal, alat-alat bantu dan lain sebagainya, tidak dikenakan zakat.
  7. Hewan-hewan yang tidak atau jarang berbiak (misalnya keledai), atau yang berbiak setelah waktu yang lama (misalnya gajah) tidak dikenakan zakat.

 

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

 

sumber gambar : amaliah-astra.com

Zakat berbeda dengan pajak, karena :

  1. Zakat adalah suatu kewajiban agama dan merupakan ibadah, sedangkan pajak adalah iuran yang diambil untuk mengumpulkan pendapatan negara.
  2. Zakat dipungut dari kaum muslim saja, sedangkan pajak dipungut dari seluruh warga negara bersangkutan tanpa memandang status sosial, kepercayaan, ataupun warna kulit.
  3. Zakat adalah tugas wajib kaum muslim yang harus dijalankan dalam segala keadaan dan sama sekali tidak boleh dikurangi, sedangkan pajak dapat dikurangi oleh pemerintah.
  4. Berbeda dengan pajak, sumber dan tarif zakat telah ditentukan Al Qur’an dan Sunnah, serta tidak dapat diubah dari waktu ke waktu sesuai dengan keperluan pemerintah dari negara.
  5. Jenis harta yang terkena zakat serta pihak-pihak yang berhak menerimanya sudah ditetapkan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Adapun pembelanjaan pajak dapat saja dimodifikasi sesuai kebutuhan pemerintah.
  6. Zakat diterima dari orang kaya dan dibelanjakan untuk orang miskin serta yang membutuhkan, sedangkan pajak menguntungkan baik yang kaya maupun miskin; dan, dalam kondisi tertentu bahkan lebih menguntungkan orang kaya daripada orang miskin.
  7. Zakat dipungut dari total harta yang ada pada si pemilik selama setahun penuh (bukan dari penghasilan kotor-ed.).
  8. Pungutan zakat pada dasarnya bertujuan mencegah distribusi harta kekayaan yang tidak merata dan tidak adil dan pemusatan kekayaan, sedangkan pajak dipungut terutama untuk tujuan-tujuan pendapatan negara.

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

 

sumber gambar : mariellasays.blogspot.com

Dalam Al Qur’an, sikap kikir digambarkan berasal dari bisikan setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir)… (QS. Al Baqarah [2]:268). Sikap kikir muncul karena seseorang “merasa dirinya cukup … serta mendustakan (pahala) yang terbaik” (QS. Al Lail [92]:8-9); yakni sikap tidak mau bekerja sama dengan anggota masyarakat lainnya, sehingga pasti menghambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Allah mendorong kedermawanan yang didalamnya terdapat ampunan dan karunia-Nya (QS. Al Baqarah [2]:268).

Pemakaian kata-kata “merasa dirinya cukup” ini sangat penting. Sebab, ini menunjukkan bagaimana kesuksesan individu (atau bangsa) bergantung pada pertolongan dan bekerja sama individu (bangsa) lainnya. Jika seseorang berpikir bahwa dia dapat hidup sendiri -dan karenanya tidak mau bekerja sama dengan anggota masyarakat lainnya- dia benar-benar salah. Dalam hidup ini, tak seorang pun dapat meraih kesuksesan dan kemakmuran tanpa bantuan orang lain. Sungguh orang seperti itu, dengan meniadakan kebaikan kepada orang lain, berarti mengingkari kebaikan bagi dirinya sendiri, dan akibatnya, dia sendiri akan terjerumus ke dalam berbagai kesulitan.

Disarikan dari Ensiklopedi Muhammad SAW. Seri 3 – Muhammad Sebagai Pedagang.

Info : (031) 71134911 atau kirim email ke : tokobukuistimewa@gmail.com

Untuk cara pemesanan, silahkan lihat disini

sumber gambar : dewiliyanakatili.blogspot.com

October 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Daftar Isi

Follow Us @bukuistimewa

Subscription



GRATIS artikel/info/promo terbaru langsung dikirim ke Email Anda

@bukuistimewa